Transisi Mental

Lakukan perjalanan dari diri kedalam diri
karena dengan perjalanan semacam itulah bumi ini kan menjadi sebuah tambang emas

(  jalaluddin rumi )

 

Seekor katak yang telah terbiasa tinggal di rawa, dan menjadikan lingkungan rawa itu sebagai bagian dari dalam dirinya, membuatnya terbelenggu akan hal itu, betapapun sang pangeran berusaha memberikan istana bergelimang emas, kursi dan ranjang terbuat dari emas untuk sang katak, sang katak akan tetap melompat meninggalkan istana dan akan kembali ke rawa.

Sebuah jiwa yang telah terbiasa dalam lingkungan buruk, bahkan jika keburukan lingkungan itu terbentuk akibat kemalasannya, maka bisa saya simpulkan bahwa keburukan lingkungan sekelilingnya merupakan gambaran keburukan jiwanya, kondisi jiwa semacam ini tak ubahnya seekor katak yang telah terbiasa hidup di rawa, dan tidak dapat hidup tanpa rawa, sebuah kondisi kejiwaan yang telah terbiasa dengan kegagalan dan sangat jauh dari kesempurnaan.
jiwa yang telah terbiasa akan jauhnya dari bentuk kesempurnaan, ibarat sang pangeran yang terkutuk menjadi seekor katak dalam kisah dongeng pangeran katak. Ia jauh dari pengenalan eksistensi dirinya,
keterbiasaan akan kehancuran menjauhkan diri dari keberhasilan, sebab perjalanan pertama bagi mereka yang ingin membangun mimpi kemakmurannya, diawali dengan melawan keterbiasaan mental gagal yang dimilikinya.

 

Betapa banyak orang di bumi ini yang memimpikan kehidupan yang makmur, dipenuhi kesuksesan, namun perjalanan mereka menuju masa depan membawa puing-puing masa lalunya, kebiasaan-kebiasaan lama yang hanya akan menggiringnya pada lembah kehancuran, tak dapat mereka lepaskan.
perjalanan dari diri menuju diri memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Dengan tidak mereduksi maknanya, saya hanya ingin sedikit memetik hikma yang terkandung dari syair tersebut.

Bila kita amati tentang keberadaan manusia, maka kita akan sadari bahwa keberadaan manusia dalam kehidupan, merupakan keberadaan yang terus ada, karna ditopang oleh keberadaan yang maha mutlak, ibarat sebuah lampu yang teraliri listri, keberadaan manusia bagaikan cahaya lampu, sekejap saja aliran listrik itu terputus, maka keberadaan manusia akan lenyap dengan segala kemampuan dan kekuatannya.
dari hal itu dapat saya pahami bahwa, bila keberadaan manusia berasal dari keberadaan yang maha ada, dan yang maha kuasa, maka keberadaan manusia pun kekal adanya, leburnya jasad termakan tanah, merupakan keberadaan manusia pula, yang hanya berubah wujud, namun ruh manusia yang menjadi eksistensi manusia itu, tetap kekal dalam keadaan yang berbeda pula,

Coba kita perhatikan analogi sebuah lampu, sebuah lampu yang memiliki kapasitas rendah dalam menerima aliran listrik, maka ia tidak akan mampu teraliri aliran listrik yang bertegangan tinggi, jika terus dipakasakan maka ia akan rusak, dan hancur, begitu pula dengan manusia, ketergantungan keberadaan manusia dari kekuatan tampa batas, menunjukkan potensi diri manusia yang luar biasa pula,
namun sering kali manusia memenjarakan dirinya sendiri, keterbatasan dalam diri manusia tak lain karna pikiran mereka sendiri yang berusaha membelenggu dirinya, ibarat seekor singa yang besar bersama kambing, hingga ia merasa drinya adalah kambing, tidak adanya pengetahuan akan jati diri, membuat manusia benar-benar terbelenggu akan kebodohannya sendiri,  jika seseorang dalam hidupnya tidak perna merasa bahwa dirinya adalah mahluk hebat, maka ia akan terus menghindari hal-hal yang menantang kemampuannya,

Kegagalan adalah biasa, sebagaimana kita saat pertama kali berusaha belajar berjalan, betapa seringnya kita terjatuh, namun saat kita terus berusaha mencoba, pada akhirnya kita pun dapat berlari,
seekor katak yang terus hidup dalam sumur, yang ia dapat lihat dalam sekelilingnya hanyalah air , pasir, dan bebatuan, maka ia takan pernah tau akan adanya wujud yang berbentuk pohon, lautan, dan wujud lainnya, maka berusahalah melepaskan diri dari belenggu pikiran, dengan cara menambah pengetahuan, dan terus menggali potensi diri, hingga seluruh potensi yang ada terbuka, bagaikan tabir langit tersingkap saat siang menggantikan malam.

Saya tidak akan sekedar memberikan analogi dan bayangan pada pembaca yang budiman, maka dari itu beberapa langkah yang harus dilakukan, dan dijauhi demi melepaskan belenggu pikiran akan saya paparkan berikut ini.

Dalam alquran terdapat ayat yang berbunyi : ” maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” kita semua tahu, makanan bagi fisik kita berbeda dengan makanan bagi pengetahuan kita, untuk melepaskan diri dari belenggu pikiran bukanlah makanan pisik belaka yang diperlukan, namun lebih ditekankan pada makanan yang berbentuk ilmu pengetahuan, dan menghindari racun-racun pikiran, yang akan merusak pikiran, dan membuat pikiran itu melemah dalam perlawanannya

 

Lindungilah diri anda dari informasi-informasi negatif, dan informasi-informasi sampah, semacam berita-berita yang tidak berguna, untuk pengembangan diri anda, berita-berita yang berusaha menanamkan dalam benak anda bahwa betapa berbahayanya kehidupan ini, dan betapa sulitnya menuju kesuksesan, dan betapa banyaknya orang-orang sukses hidup dengan penuh derita dan kelicikan, semua informasi itu akan membuat kegigihan dalam jiwa melemah utnuk menginginkan kesuksesan secara materi, karena secara fitrah, manusia akan berusaha menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menghancurkan dirinya, termasuk hal yang akan membuatnya bersikap buruk, karna sejatinya manusia mengindamkan sifat-sifat baik, terukir dalam dirinya.

Sebuah lagu-lagu yang menggambarkan ketidak layakan, kecengengan, berusaha memprogram dalam diri, bahwa betapa tidak berartinya diri anda, dihadapan sesorang, dan anda disitu mengemis dan berharap dan betapa anda semakin menghayati irama lagu yang terus mengirimkan pesan-pesan kelemahan dalam diri anda, hingga anda menjadi benar-benar lemah, rasa tidak layak terpatri dalam jiwa, hingga dalam alam bawa sadar anda, anda merasa tidak layak mendapatkan kemakmuran hidup.

Secara garis besar, berlaku telitilah dalam memilah informasi, baik berbentuk film, lagu, berita, bahkan ucapan-ucapa orang-orang sekitar anda, dan memilih bergaul dengan orang-orang yang memiliki jiwa pendongkrak, bukan dengan orang-orang bermental lemah, sebab semakin jiwa merasa suka dan erat dengan jiwa yang lemah baik itu dengan teman ataupun saudara, hal itu menanamkan sebuah pesan bahwa anda pun mengiyakan dan anda suka dengan sikap lemah itu, sorang yang tangguh akan membenci kelemahan, seorang yang disiplin akan membeci orang-orang yang tidak dapat menghargai waktu
maka mulailah menjadi sang juara dalam keseharian, menjadi orang yang tidak ingin menyerah dengan kemalasan dan suasana yang kotor, dan berusaha selalu perfek dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berpakaian, dalam dalam segala hal yang kecil sekali pun, dari hal kecil, akan membawa anda pada perubahan yang besar, sebab sebuah kesuksesan sebelum menjadi realita, terlebih dahulu kesuksesan dan kemakmuran itu terwujud dalam jiwa.

Jiwa pemalas, dan dan terbiasa akan kekalahan dan kelemahan, kehidupan terpuruk, kekomprosan, dan sangat jauh dari keindahan, dan nilai-nilai yang baik, dalam bertutur, dan dalam bersikap, maka hasl dari seluruh seifat buruk itu tak lain adalah keburukan pula, keterbiasaan dalam keburukan akan menutup diri dari kemakmuran.

 

 

Iklan
By ahmadmuhajir3angels Posted in Motivasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s