Nyalakan !

Seseorang harus menyalakan api
untuk mendapatkan cahaya

( jalaluddin Rumi )

Apa yang disebutkan oleh Jalaluddin rumi tersebut, merupakan hukum kausalitas (hukum sebab akibat), tak ada satupun hal di dunia ini mengada tampa sebab, dan sebab mutlak adalah kekuatan tampa batas, yaitu tuhan, apapun yang hendak dilakukan manusia tidak dapat keluar dari hukum ini.

Jika seseorang memiliki mimpi dan ingin mewujudkannya, maka ia harus membayarnya dengan harga yang sepadan pula, sebab itulah manusia niscaya menjadi budak atas apa yang ia inginkan, para pecinta tuhan, yang merindukan kasih sayangnya, mereka benar-benar menghamba dihadapannya.
jika secara kasat mata seseorang menjadi pemilik atas segala harta yang ia miliki, maka sebenarnya ialah yang dimiliki dan dikuasai atas apa yang ia miliki, maka tak ada tujuan terindah selain yang maha indah.

Setiap orang akan senasib bersama tujuannya, jika kepemilkan kekayaan harta menjadi tujuan, maka ia akan hancur bersama harta-harta itu, saat seluruh materi ini hancur, bahkan mungkin ia akan lebih dahulu binasa.
dan jika yang maha kuasa adalah tujuannya, maka ia pun akan kekal bersama tuhan yang maha kekal,

Namun hal itu semua bukan menafikan akan kemakmuran hidup dalam gelimangan harta kekayaan, bukanlah harta kekayaan yang membuat seseorang itu binasa, pemahaman bahwa harta itu membinasakan, merupakan pemahaman yang salah dan telah berakar dalam benak hampir setiap ummat beragama, hingga tak jarang mereka orang-orang beragama jauh dari kemakmuran secara materi

Mungkin untuk beribadah shalat dan berdoa serta berdzikir pada allah swt, seseorang tidak membutuhkan harta yang berlebih, namun dalam berderma dan menolong sesama, seseorang membutuhkan harta, sebuah keberlangsungan hidup, pendidikan yang layak, menyantuni orang-orang yang tak memiiki keluarga dan membuat mereka bisa hidup layak, keberlangsungan sebuah dakwa, keberlangsungan sebuah dakwa yang terorganisir untuk melindungi orang-orang yang berada dalam naungannya, dan lain sebaganya, sangat membutuhkan sebuah danya yang tidak kecil.

Lalu apa yang membuat orang berpikir bahwa harta merupakan hal yang dapat merusak hati ? ibarat kapal yang hendak tenggelam, air mulai memenuhi setiap dek-deknya, orang yang salah dalam berpikir, memilih terus menguras air yang telah menggenang itu, namun semakin banyak usaha dan waktu dikerakkan, air pun tak kunjung surut, bukanlah air itu penyebab pokok musibah itu, namun lobang yang tak cepat ditutuplah pokok permasalahannya.

Bukanlah harta itu penyebab dari kehancuran hati, namun cara pandang yang dimilikinyalah yang membuat seseorang itu menjadi buta, dan terbudakkan, sebab memang tak dapat dipungkiri, bahwa harta memberikan banyak kemakmuran, namun satu hal pula yang tidak dapat dilupakan, bahwa harta-harta itu, yang dapat memperkecil setiap masalah, dan melancarkan urusan seseorang, tak lain merupakan bentuk rahmat tuhan yang ditebarkannya di muka bumi

Bukanlah jumlah harta itu yang membuat seseorang terbutakan, namun pola pikir sempit lah yang membuat hal kecil itu seakan besar. Seorang pengemis tidak akan rela kehilangan kalengnya untuk menada, dan mendapatkan receh hasil belas kasihan orang lain, karna ia melihat kaleng itu adalah harta berharga untuk mendapatkan penghidupan, meskipun itu jelas tak bernilai, namun hatinya telah terbelenggu oleh sebuah kaleng kotor itu,
namun disisi lain seorang kaya raya yang begitu dermawan, tanpa beban hati sedikitpun, bahkan berbahagia saat ia dapa memberikan fasilitas hidup bagi orang yang memerlukannya, dan menyumbangkan sebahagian hartanya untuk keperluan dakwah agama.

Analogi diatas sangat jelas sekali, bahwa bukanlah banyak dan sedikitnya harta yang membuat seseorang itu terbutakan, namun cara pandang hidup merekalah yang menentukan,

Jelas salah, jika seseorang berpandangan bahwa materi adalah sesuatu yang sangat kotor, dan berdzikir merupakan hal yang suci, namun disisi lain ia tetap tergiur dengan pemberian-pemberian orang,
jika memang tuhan mengkehendaki agar ummat manusia seluruhnya menjauhi harta kekayaan, berbisnis dan berwira usaha, maka orang-orang beragama akan kembali pada kehidupan primitif, dan para kaum anti tuhan akan menguasai dan memberi makan para orang-orang beragama agar ia tetap fokus berdzikir dan menyembah tuhannya.

Hal tersebut merupakan fenomena yang sangat lucu, manusia memiliki mendapatkan kekuatan dan mandat dari tuhan untuk mengelolah dunia ini sebaik-baiknya, jika hal itu ditanamkan dan terpatri dalam jiwa, maka gemerlap emas takkan menggoda untuk berbuat seraka, sebuah contoh : seorang pegawai bank, yang setiap harinya bergelumun dengan uang, sedikitpun ia tidak terikat dengan uang-uang itu, karna ia tau uang itu bukanlah miliknya, namun mereka adalah para pengelolah dari uang-uang itu, dan mendapatkan hasil atas usahanya, untuk ia nikmati, itulah bentuk kasih sayang tuhan yang ter tebar di muka bumi,

 

Seseorang perlu berusaha, berbondong-bondong dalam kebaikan, untuk mendapatkan rahmat dan kasih sayang tuhan itu, sebuah kemakmuran hidup, dengan bahasa Rumi, seseorang harus menyalakan api untuk mendapatkan cahaya, maka seseorang harus hidup sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai khalifah tuhan, untuk mendapatkan kemakmuran hidup, baik kehidupannya saat ini, maupun kehidupannya yang lebih kekal nanti.

Iklan
By ahmadmuhajir3angels Posted in Motivasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s